Testimoni Terapi Anti Retro Viral Pada ODHA

Di awal tahun 2018 ini, penulis memperoleh informasi akan manfaat besar dari pengobatan HIV-AIDS yang ada saat ini, yaitu pengobatan terapi ARV, Obat penghambat kerja HIV pada tubuh manusia. Kombinasi obat ARV yang diperoleh, sangat manjur untuk mempertahankan kualitas hidup dan kondisi tubuh. Disamping itu kesigapan petugas kesehatan, mengetahui gejala atau tanda-tanda ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) tidak cocok pada terapi ARV lini pertama, hingga diganti dengan terapi ARV lini kedua.  Dengan keteguhan menerima keadaan dan selalu menjaga kepatuhan untuk minum obat secara teratur, menyebabkan kondisi tubuh bisa pulih, tidak terperosok pada kumpulan gejala atau tanda penyakit yang lumbrah disebut AIDS. Disamping itu, terapi ARV ini bisa mencegah penularan HIV dari ibu ke anaknya, sehingga anak tidak terinfeksi virus penurun daya tahan tubuh manusia tersebut.



Hal ini dialami oleh Nini (nama samaran) seorang ODHA wanita yang berasal dari Tegalalang, Gianyar yang saat ini kondisi tubuhnya baik, dan nampak ceria. Nini memiliki suami yang juga ODHA yang kondisinya telah membaik, dimana mereka telah minum ARV secara teratur. Pasangan ODHA ini memiliki dua orang anak, laki dan perempuan, anak pertama telah menginjak sekolah SMP kelas satu dan anak kedua duduk di kelas satu SD, dimana kedua anaknya telah tes darah, yang dinyatakan negatif HIV.

Bermula Tahun 2009, dimana sang suami mengalami diare dan demam berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh. Upaya pengobatan telah dilakukan, hingga akhirnya rawat inap di RSUD Sanjiwani Gianyar. Saat Nini mendampingi sang suami memperoleh pelayanan kesehatan, petugas menyarankan sang suami untuk test HIV.  Karena Nini menginginkan sang suami bisa cepat sembuh, nini mengikuti saran petugas kesehatan, termasuk untuk test HIV. Nini dan sang suami memperoleh konseling pasangan untuk meningkatkan pengetahuan, baik apa itu HIV-AIDS, cara penularan, pencegahan dan lainnya, termasuk manfaat dari test HIV. Setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar, kembali pasangan suami istri ini memperoleh konseling lanjutan untuk mengetahui kesiapan pasangan ini menerima hasil, dan pemberian informasi pelayanan kesehatan lanjutan yang akan diperoleh bila positif terinfeksi HIV.

Siapapun akan merasa sangat terpukul, bila mengetahui pasangannya terinfeksi HIV. Demikian pula yang dialami oleh Nini. Nini merasakan kehampaan dan sangat sulit menerima kenyataan tersebut. Berkat dampingan konselor,  secara perlahan Nini bisa menerima keadaan tersebut, tidak memikirkan masa lalu, dan ingin memperoleh kesembuhan pada sang suami. Selanjutnya, Nini juga disarankan untuk melakukan test HIV. Seperti diketahui bahwa penularan HIV dapat terjadi bila ada pertukaran cairan tubuh, baik itu darah, cairan kelamin dan air susu ibu, yang salah satunya adalah melalui hubungan seksual. Ninipun merasa pasrah saat tangannya disuntik untuk pengambilan sampel darah HIV. Telah diduga sebelumnya, oleh konselor,  hasil pemeriksaan tiga jenis Rapid test HIV pada sampel darah Nini dinyatakan reaktif, yang artinya Nini positif HIV. (OLEH: I MADE MABA, SKM)

Login