Ibu hamil diwajibkan ikut tes HIV pada usia kandungan 3 bulan untuk mencegah virus mematikan menjangkiti bayi

Sejak tahun 1987, Dinas Kesehatan Gianyar mencatat 1.216 warga terinfeksi HIV/AIDS. Dalam kurun lima bulan terakhir di tahun 2017, Dinas Kesehatan menemukan 59 kasus HIV/AIDS. Ironisnya, warga yang terinveksi virus mematikan ini pada usia produktif antara usai 20 tahun hingga 39 tahun.



Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, IA Cahyani Widyawati MKes mengatakan selalu ada peningkatan temuan kasus baru. “Tahun lalu ada 178 kasus baru, tahun ini sampai bulan Mei sudah ditemukan 59 kasus baru,” ungkapnya, Rabu (5/7). Temuan kasus baru ini didapatkan melalui berbagai cara. Selain menyasar langsung orang-orang yang berisiko, pihaknya juga mewajibkan setiap ibu hamil untuk tes HIV.

Cahyani didampingi Kepala Seksi Pencegahaan dan Pengendalian Penyakit Menular, Nyoman Astawa dan Penanggungjawab Program HIV, I Made Maba menjelaskan, ibu hamil diwajibkan ikut tes pada kehamilan triwulan I (usia kandungan 3 bulan, red). Tujuannya, jika ditemukan HIV positif maka dilakukan pendampingan agar bayi yang lahir terbebas dari virus pembunuh ini.

Cahyani memastikan dari total kasus ibu hamil yang positif HIV, sebagian besar melahirkan bayi negativ HIV. “Sebanyak 95% bayi yang lahir dari ibu positif HIV, kondisinya normal. Maka itu, kami tidak akan bosan-bosan mendorong supaya ibu hamil mau periksa diri,” ujarnya tanpa merinci jumlah ibu hamil positif HIV. Diakui, ibu hamil yang mengetahui dirinya positif HIV kerap menutup diri. Bahkan syok, hingga enggan melakukan pemeriksaan.

Menghadapi situasi ini, Dinas Kesehatan Gianuar mengatakan telah melatih bidan-bidan di Kabupaten Gianyar menjadi konselor. Selain temuan pada ibu hamil, kasus baru juga ditemukan pada kasus di Rumah Sakit. Baik pasien yang dirawat inap maupun rawat jalan. “Kita juga padukan pemeriksaan pasien TBC, supaya tes HIV. Begitu pula sebaliknya. Jadi banyak jalan kami lakukan untuk menemukan kasus baru,” terangnya.

Sebagai upaya penanganan, Cahyani mengatakan, telah menyediakan klinik VCT di 13 Puskesmas. Sehingga, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di pelosok desa pun sudah tersentuh layanan kesehatan. Untuk menekan penyebaran kasus ini, Cahyani mengimbau masyarakat menghindari hubungan seks berisiko. Sebab, penyebab utama penyebaran virus mematikan ini tertinggi akibat hubungan seks yang berganti-ganti pasangan atau heteroseksual. Sementara bagi ODHA yang saat ini dalam penanganannya, diimbau teratur minum ARV. Sebab jika putus obat di tengah jalan, virus HIV dalam tubuh bisa menjadi lebih ganas dari sebelumnya.

Bahkan jika sudah masuk kategori resisten, akan sulit ditangani. “Virusnya memang tidak bisa dihapus total dari dalam tubuh. Tapi dengan minum ARV secara teratur, daya tahan tubuh bisa lebih kuat. Obat ARV ini akan menekan virus supaya tidak ganas, bahkan tidak mampu menularkan ke orang lain,” terangnya.

Login